Menu

Browsing "Older Posts"

Browsing Category "KAP BSC 2017"

PEMILIHAN KETUA PELATUK BSC 2017

Senin, 27 Februari 2017 / No Comments
    
Salah satu acara inti dalam kegiatan LPJ Akhir Tahun Pelatuk 2016 adalah Pemilihan Ketua Pelatuk BSC untuk Periode 2017 yang dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 28-29 Januari 2017 di Medini, Kendal. Terdapat lima kandidat calon ketua yang telah oleh Dewan Formatur, yaitu Titi Alfath (Pelatuk IX), Eva Faradella (Pelatuk IX), Raka Aditya (Pelatuk X), Retno Wulandari (Pelatuk X) dan Christopher Nicholas Y.P. (Pelatuk X).

     Kelima calon secara bergantian memaparkan visi misinya dengan penuh percaya diri dan keyakinan. Sorak sorai dan tepuk tangan dari anggota Pelatuk BSC pun meramaikan jalannya pemilihan ketua. Kemudian dilanjutkan dengan voting terhadap kandidat calon ketua oleh seluruh anggota Pelatuk BSC yang hadir. Semua anggota Pelatuk BSC menuliskan nama dan alasan memilih calon anggota yang dipilih di selembar kertas suara. Voting ini dimaksudkan untuk memberikan saran kepada Tim Formatur dalam mempertimbangkan penentuan ketua Pelatuk BSC terpilih.

     Setelah voting selesai, saat-saat yang sangat mendebarkan bagi kandidat calon ketua adalah sesi wawancara tertutup dengan Dewan Formatur dan beberapa anggota yang telah ditunjuk untuk melakukan wawancara. Kandidat calon ketua satu persatu memasuk ruangan untuk diwawancarai. Lama waktu wawancara berbeda-beda untuk tiap kandidat calon ketua.

     Karena cuaca di Medini pada saat itu sangat dingin, para calon yang telah melakukan wawancara pun tidur. Sedangkan Dewan Formatur harus masih bertugas. Dewan Formatur melakukan voting tertutup dan musyawarah mufakat untuk menentukan ketua Pelatuk Bsc Terpilih. Musyawarah berlangsung sampai larut malam, hal ini dilakukan karena para dewan Formatur harus berfikir lebih keras, penuh kehati-hatian untuk memberikan amanah ketua kepada ketua terpilih nantinya.

     Hari berganti, pada sore hari sebelum upacara penutupan acara LPJ Akhir Tahun adalah hari dimana ketua Pelatuk yang baru diumumkan. Kelima calon berjajar di depan dan memejamkan mata. Setelah Beberapa saat kami para calon membuka mata dan melihat bahwa yang menjadi ketua Pelatuk BSC periode 2017 adalah Christopher Nicholas Y.P. Serah terima jabatan dari ketua Pelatuk BSC 2016 saudara Erik Prasetyo kepada Ketua Pelatuk BSC 2017 secara tidak resmi dilakukan dengan penyerahan bendara pelatuk. 
     
     Dengan ini perjalanan serta perjuangan estafet pelatuk BSC harus tetap berlanjut walaupun sang nahkoda telah purna tugas dan beberapa awak harus berganti. Sambutan dari Ketua Pelatuk yang baru pun kami dengarkan. Dan sebagai penutup dengan lantang Ketua Pelatuk BSC terpilih mengucapkan jargon Pelatuk BSC. Pelatuk BSC…. Save Our Birds, Pelatuk BSC…., Burungku, Burungmu, Burung Kita Semua!!!!

By Retno Wulandari, Editor: Erik Prasetyo

Pelatihan Fundraising, Membangun Jaringan dan Publikasi

/ No Comments
     Fundraising, Jaringan dan Publikasi merupakan suatu hal yang sangat penting didalam suatu organisasi. Pada hari sabtu- minggu tanggal 28 sampai 29 Januari 2017 Pelatuk BSC melakukan kegiatan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Kepengurusan 2016 di Medini, Kab. Kendal. Pada hari kedua kegiatan diadakan pelatihan fundraising, membangun jaringan dan publikasi yang dibawakan oleh salah satu dewan kehormatan pelatuk yaitu Yoga Jiwanjaya.

     Materi yang diberikan yaitu meliputi fundraising, cara membangun jaringan yang luas dengan memanfaatkan berbagai media dan publikasi. Tidak hanya bagi sebuah organisasi namun bagi semua citizen science membangun jaringan dengan berbagai pihak serta publikasi segala macam aktifitas merupakan hal yang sangat penting. Membangun jaringan yang luas dapat memberikan manfaat yang sangat baik bagi diri kita sendiri karena dengan koneksi yang yang luas secara otomatis kita menjadi mudah terhubung dengan informasi-informasi baru dan yang pasti dapat memberikan kita teman baru dan pengalaman baru.

     Selain membangun jaringan yang luas, publikasi merupakan hal lain yang sangat penting bagi kita semua yang merupakan citizen science. Publikasi segala aktifitas dan segala data atau kegiatan keilmiahan yang telah kita lakukan dapat melalui berbagai cara salah satunya adalah dengan memanfaatkan perkembangan internet yang sangat luas. Kita dapat memanfaatkan segala jenis sosial media yang ada, misal kita dapat mengupload segala kegiatan kita di instagram, path, facebook atau akun sosial media yang lainnya. Selain mengunggahnya di media sosial kita juga dapat menuliskan hasil karya ilmiah kita dalam bentuk jurnal dan kemudian bisa di publish karena ilmu akan lebih bermanfaat jika kita mau membagikannya kepada orang lain.

    Bagi kita yang suka menulis kita dapat menuliskan dan mencurahkan segala kegiatan dan karya-karya ilmiah kita dalam sebuah artikel dan dapat mempublisnya melalui blog. Menulis artikel di blog dapat menghasilkan tambahan dana bagi kita karena jika kita rajin update dengan berbagai macam artikel maka bisa jadi melalui berbagai iklan yang dipasang di blog kita dapat memberikan pemasukan dana untuk kita. Maka dari itu rajinlah menulis karena dengan menulis akan mendatangkan berbagai macam manfaat bagi diri kita.

By Fitria Febriyani (Kadiv Infohum Pelatuk BSC 2017/ Biologi 2013)

Berlatih Sketsa, Dasar Berlatih Identifikasi Burung

/ No Comments

           Minggu, 29 Januari 2017 sekitar pukul 2 siang berlangsung salah satu penyampaian sederhana namun sarat ilmu dari Panji mengenai sketsa burung. Pelatuk BSC merupakan salah satu organisasi yang bergerak di bidang konservasi perburungan Indonesia, dan identifikasi burung merupakan hal mendasar yang harus dikuasi tiap anggotanya. Sektsa menurut penuturan Panji merupakan dasar berlatih identifikasi burung yang ditemui di alam liar. Apabila tidak langsung mengetahui dengan jelas jenis burung yang ditemui dan untuk memperkuat hasil pengamatan, seorang pengamat perlu membuat sketsa burung.


         Tepatnya di salah satu aula barak di daerah perkebunan teh Medini, Gonoharjo pelatihan dimulai dengan penegasan perlu dan pentingnya sketsa burung sederhana bagi seorang pengamat. Panji menjelaskan bagian-bagian dari burung yang perlu diketahui untuk memulai sketsa burung di alam liar. Dimana hal ini juga menjadi dasar untuk mengenali ciri-ciri khas burung. Dalam membuat sektsa burung hal yang perlu diperhatikan adalah postur tubuh apakah tegak atau datar, serta bentuk leher dan bentuk kaki apakah panjang atau pendek. Kemudian untuk melengkapi sketsa sangat perlu dibubuhkan ciri khusus dari burung tersebut berupa ciri tubuh atau prilaku burung di alam liar tempat ditemukannya.

            “Membuat sketsa burung tidak harus bagi mereka yang punya bakat menggambar, orang yang tidak menggambar pun bisa membuat sketsa dengan cara-cara sederhana, dan itu sudah cukup membantu dalam identifikasi burung nantinya”, salah satu penuturan dari Panji saat dipersilakannya peserta untuk mengikuti arahan Panji dalam membuat sketsa burung Pelanduk topi hitam (Pellorneum capistratum). Berbekal pensil atau bolpoin serta kertas HVS bekas, peserta sangat antusias dan mengikuti dengan baik arahan dari Panji dalam membuat sketsa sederhana burung yang dibeda-bedakan berdasarkan postur tubuh. Beberapa burung yang berhasil digambar oleh peserta antara lain Kutilang, Kareo padi, Layang-layang batu dan Pelanduk topi hitam.

          Penjelasan terakhir yang disampaikan oleh Panji adalah bagaimana trik-trik yang bisa digunakan untuk lomba pembuatan sketsa burung dalam Birdwatching Competition. Trik-trik ini diperkuat dengan beberapa prestasi yang diraih Panji dan timnya di bawah Pelatuk BSC dalam beberapa kompetisi, antara lain juara umum II Birdwatching Competition Universitas Udayana di Bali tahun 2016 dan juara umum III Merapi Birdwatching Competition di tahun yang sama. Hal ini dapat menjadi penyemangat peserta pelatihan, yang dalam hal ini termasuk pengamat muda untuk membuat prestasi-prestasi lainnya yang pada dasarnya berawal dari membuat sketsa burung sederhana.
               
              Jadi, jangan berhenti mencoba dan berusaha!! Teruslah berkarya!!!
 #SaveOurBirds
 #BurungkuBurungmuBurungKitaSemua

Pengamatan Burung Bersama Anggota Pelatuk BSC Sebagai Bagian dari KAP BSC 2017 di Medini, Kendal

/ No Comments
         Hello guys, Pelatuk BSC coming back! Ada acara terbaru nih dari Pelatuk BSC UNNES yaitu LPJ Akhir Tahun dan Pemilihan Ketua Baru, setelah pembahasan LPJ dan pemilihan ketua Pelatuk BSC UNNES 2017 yang memakan waktu hingga tengah malam pada Sabtu (28/1), Pelatuk BSC bersama para Mahaguru Pelatuk BSC mengadakan pengamatan dan pendataan burung, Minggu (29/1).
 
         Ah sebelumnya ada yang ingin ditanyakan kepada kalian. Apakah kalian tahu tentang Pelatuk BSC? Pasti kalian membayangkan tentang burung pelatuk bahkan kalian membayangkan kartun Woody Woodpecker. Tebakan kalian mendekati benar, Pelatuk BSC adalah sebuah organisasi dibawah naungan Hima Biologi UNNES yang kegiatan didalamnya adalah mengamati burung. Selain menjadi pengamat burung, kami juga merupakan pemerhati burung yang turut menjaga kelangsungan keberadaan hidup burung di Indonesia. Tetapi kami bukan pengamat burung yang menangkap burung kemudian mengurungnya di dalam sangkar. Bukan... bukan itu melainkan kami me
ngamatinya di alam bebas mulai dari daerah pantai, kota, hutan maupun rawa. 

       Kegiatan yang biasa kami lakukan adalah birdwatching di daerah kampus UNNES Sekaran, mengawasi berapa jumlah spesies yang terdapat di kawasan UNNES. Apakah jumlah spesies bertambah banyak atau ada penambahan spesies dalam kawasan UNNES. Sekian dulu ya cerita tentang jati diri Pelatuk BSC UNNES. (Fina Risqotul Husna)

        Pengamatan kali ini berlangsung di Kebun Teh Medini yang terletak di Desa Ngesrep Balong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Jalur untuk pengamatan dibagi menjadi empat jalur dengan jumlah anggota lima hingga enam orang. Dan disetiap jalur ada Mahaguru yang siap membimbing kami. Ngomong-ngomong untuk Mahaguru ini adalah senior-senior yang sudah lama berkecimpung dalam ilmu perburungan. Kembali ke empat jalur tadi, kebetulan sekali tempat kami menginap berhadapan langsung dengan Gunung Genthong, Hutan Pinus dan perkebunan teh. Pengamatan yang kami lakukan dimulai pada pukul 06.00 dikarenakan cuaca yang sedikit berkabut setelah semalaman diguyur hujan.

         Pada jalur pertama ini jalur yang ditempuh tidak terlalu jauh tetapi melewati tanaman semak belukar yang penuh dengan duri, jadi pada saat pengamatan melewati jalur 1 yaitu jalur menuju atas kita harus berhati hati dalam berjalan dan pandai pandai mengamati sekitar kita. Kami berangkat pengamatan bersama 5 orang pengamat lain, dengan menggunakan 3 teropong binokuler satu diantaranya teropong yang lebih kecil dibandingkan dengan yang lain. Pada saat perjalanan melalui jalur 1 ini medan yang kami tempuh cukup berat, mulai dari jalqn yang licin, terjal dan berkelok. 

         Pada saat pemberhentian pertama kami melihat burung cucak loreng jawa terlihat bertengger di tajuk tengah suatu pohon berjumlah dua ekor, ada juga kutilang sedaang terbang sekitar 6 ekor setelah itu ada serindit jawa, lalu kami segera melanjutkan perjalanan menuju titik pengamatan yang kedua yaitu berada persis di sebelah kuburan kami melihat banyak spesies burung termasuk burung serindit jawa lagi berjumlah kurang lebih sekitar 50, ada juga takur tulung tumpuk berjumlah satu ekor, lalu juga ada elang bondol satu ekor terlihat pada tajuk tengah suatu pohon.

        Setelah berada di spot pengamatan 2 kaami melanjutkan perjalanan pengamatan menuju titik pengamatan yang ketiga berada di tepi jurang kami melihat beragam jenis burung yaitu ada cekakak sungai selain terdengar suaranya tampak juga burungnya terlihat pada tajuk atas suatu pohon, ada juga walet linci berjumlah 3 ekor. Lalu setelah itu kami melanjutkan ke spot yang ke empat melewati jalan yang penuh dengan rintangan melewati jalan setapak untuk satu orang, tebing yang menjorok ke jurang lalu juga melewati sungai yang kadar airnya sangat dingin mengingat pengamatan ini dIlakukan di daerah pegunungan, pada saat turun lalu menyeberang sungai dan naik disitulah spot ke empat untuk pengamatan ini. Di situ kami melihat spesies burung kutilang 3 ekor, ada juga sikatan belang.

         Setelah mencapai batas waktu yang telah ditentukan pukul 09.30 WIB kami memutuskan untuk kembali ke barrak melalui jalur yang berbeda, pada saat perjalanan kami pun secara tak sengaja melihat sesosok jenis burung elang, tetapi tidak tahu itu jenis elang apa karena tampak dari bawah dan terlihat samar samar pada saat elang itu terbaang dan pergi meninggalkan kita, selain elang kita juga melihat tepekong jambul sekitar 8 ekor berada pada tajuk atas tajuk tengah dan ada yang sedang terbang. Setelah beberapa menit kami melanjutkan perjalanan dan kami pun memilih jalur yang lain dari jalur berangkat, kita melewati jalur bebatuan tetapi sudah tersusun secara rapi sehingga dalam perjalanan tidak terlalu mengganggu, dan saat itu lah kami bertemu warga setempat dan tidak lupa saling sapa. (Erik  Aprillian Donesia)

       Jalur yang kelompok kami dapatkan adalah jalur dua dengan arah menuju kebun teh yang kemudian turun untuk masuk ke wilayah hutan. Kelompok kami terdiri dari enam orang yang sudah termasuk satu orang Mahaguru yang biasa kami panggil Mas Panji. Sebelumnya kami berangkat dengan kelompok jalur satu yang memang satu arah sebelum akhirnya kami berpisah di tengah jalan. Beberapa orang dari kelompok lain mengikuti rombongan kami sambil mengaku-ngaku kelompok kami. Tidak lain karena adanya Mahaguru Panji yang terkenal dengan ensiklopedia burung berjalan. Mas Panji hanya tertawa melihat kami mendorong-dorong anggota yang tak diundang itu untuk keluar dari jalur kami. Mereka tetap bersikukuh sambil meyakinkan kepada kami bahwa kami kekurangan personil. Tidak... kami tidak kekurangan personil kok.

       Memasuki kawasan kebun teh kami disambut dengan Cucak kutilang dan Walet linchi yang memang tak terhitung jumlahnya di daerah ini. Kami juga disambut dengan suara burung Wiwik yang rupa-rupanya seperti mengejek kami untuk mencari keberadaannya. Setelah bosan dengan kawasan kebun teh yang tidak mendapatkan apapun burung kecuali Cucak kutilang dan Walet linchi. 

       Akhirnya kami memasuki daerah hutan dengan menyeberangi sungai kecil. Ketika melalui sungai ini, kami disambut dengan suara Meninting. Setelah melewati sungai kecil, medan yang sebenarnya mulai terlihat. Tanjakan seperti biasa bisalah kami lewati tetapi semakin keatas tanjakan yang bukan biasa cukup membuat kami bersusah-susah untuk menaikinya. Butuh waktu yang lama dan medan yang terjal untuk sampai di tempat tujuan yang tepat untuk mengamati burung. Sempat kami berhenti untuk berbagi minuman dan makanan meskipun hanya satu botol air mineral dan satu bungkus roti. Sesampainya di tempat tujuan kami, kami mulai mengamati kalau-kalau ada burung yang lewat.

         Setelah lamanya kami menunggu akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali ke barak dan kebetulan kami sudah lelah dan waktu sudah menunjukkan untuk kembali. Tiba-tiba salah satu dari kami berteriak menunjuk ke arah atas kami. Sebuah burung elang sedang melakukan soaring tepat diatas kami. Berwarna coklat dengan sayap yang tidak meruncing yang menandakan bukan jenis Alap-Alap. Tetapi kami tidak bisa mengetahui nama spesies burung elang tersebut yang jelas bukan Elang ular bido dan bukan Elang hitam. Selain itu ada banyak jenis burung yang tiba-tiba keluar selama perjalanan kami pulang ke barak seperti Sepah hutan, Cabai bunga api, Merbah cerukcuk, Jingjing batu, dan masih banyak lagi sampai kami bingung untuk mengamatinya.

       Kami mendapatkan Elang ular bido yang tiba-tiba melakukan soaring di samping kami. Penyambutan selamat tinggal yang luar biasa yang tentu saja membuat kami senang. Meskipun kami tidak mendapatkan apapun selama berangkat tetapi dengan penyambutan selamat tinggal itu membuat kami bersemangat kembali dan pulang ke barak dengan beberapa pertanyaan. Terlebih lagi elang yang tak tahu namanya yang membuat kami penasaran hingga saat ini.

         Setelah pengamatan dan pendataan burung tersebut tercatat terdapat 11 spesies burung di jalur dua ini. Beberapa spesies burung yang mendominasi di jalur dua ini antara lain Walet linchi dan Cucak kutilang. (Intan Nawang Wulan)

        Jalur 3 bersamaan dengan jalur 4 menuruni kebun teh dan berpisah dipersimpangan, dengan mengambil jalur lurus menuruni kebun teh dan memasuki hutan pinus. Tak banyak burung yang bisa kami lihat ketika memasuki hutan namun, ada beberapa suara burung yang terdegar baik sayup-sayup maupun jelas terdengar yang artinya burung tersebut berada dekat dengan kami. Namun, setelah beberapa lama kami mencari dan memfokuskan mackinon kami berdasarkan sumber suara tersebut kami masih tidak menemukan keberadaan burung-burung tersebut, kemungkinan besar burung tersebut berukuran kecil dan menyelinap diantara dahan dan ranting pohon dibagian bawah jurang disamping hutan pinus yang kami masuki.
       
        Perjalanan kami lanjutkan dengan memasuki bagian hutan yang semakin dalam, disana kami menemukan seekor burung tepat diatas kami. Tetapi karena cahaya matahari yang mulai terik, kami hanya bisa melihat siluetnya saja tanpa mampu melihat warna pada keseluruhan burung tersebut. Sehingga, dalam proses identifikasi, kami tidak bisa memastikan spesies burung tersebut. Semakin kami masuk kedalam hutan, keadaan tidak jauh berbeda ketika kami memasuki hutan pinus tadi. Tidak banyak spesies burung yang kami temukan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke area air terjun yang berada tidak jauh dari titik pengamatan kami saat itu.

         Ketika sampai di air terjun tersebut, aliran air cukup deras jika dibandingkan dengan aliran air pada waktu biasanya (mungkin dikarenakan cuaca dan seringnya hujan). Disekitar air terjun tersebut, seorang Bapak (atau mungkin lebih tepat Mas-Mas) membawa beberapa tanaman (tampaknya akan melakukan penanaman, mengingat disekitar air terjun banyak tanaman yang mati atau busuk karena seringnya diguyur hujan atau karena banjir). Karena tidak banyak spesies burung yang terlihat disekitar air terjun, kami memutuskan untuk membantu “Bapak” tersebut menanam pohon dan sekedar membersihkan sampah serta batang-batang pohon yang hanyut disekitar aliran air terjun (untuk menghindari adanya penyumbatan kalau-kalau suatu saat alirannya bertambah deras), meskipun fokus kami untuk pengamatan burung bukan berarti harus mengesampingkan kelestarian lingkungan sekitar bukan? Iya kita harus menjaga kelestarian lingkungan.

      Setelah selesai, kami berpamitan untuk kembali ke penginapan dan keberuntungan kami (mungkin juga imbalan atas bantuan yang kami berikan hhehhe), kami mendengar dan melihat dari kejauhan dua ekor elang hitam yang tengah terbang disisi bukit yang berseberangan dengan hutan pinus yang kami masuki. Elang tersebut tengah “soaring” dilangit dekat bukit, sedangkan satunya “soaring” dilangit terbuka diantara dua bukit yang terpisahkan oleh lembah yang cukup dalam. (Riantika Damayanti)

        Bersamaan dengan jalur 3 tadi, Jalur ke 4 ini merupakan jalur kearah hutan pinus namun belok kanan, memasuki Hutan yang dinamakan Hutan Gentong. Jalanya cukup licin karena samping kiri jurang, jalan tanahnya hanya untuk satu orang dan kita harus turun melewati sungai, kemudian naik ke hutan gentong . Selama perjalanan menuju hutan gentong sebelum melewati sungai, kami tidak menemukan jenis burung apapun karena medanya yang gelap penuh dengan tumbuhan dan tidak memungkinkan untuk burung mendapatkan makanan di wilayah tersebut, baru ketika melewati sungai dan naik menuju hutan gentong terlihat langit dan pohon-pohan yang tinggi .

          Burung pertama yang kami amati saat menginjak Hutan Gentong adalah sepah kecil kemudian wallet yang sedang terbang tidak lama kami melihat burung di pohon yang mati ketika kita mengamati dengan binok ternyata Keladi ulam kemudian kami melihat lebih dari 10 kutilang di tajuk atas dan bawah dalam satu pohon , kita juga mengamati adanya burung yang besar leher merah dengan tubuh bagian atas hijau pucat dan paruh hijau yang kita sebut kadalan birah di tajuk atas selain melihat, kami bisa mengamati burung yang satu ini dengan mendengar suaranya yaitu burung wiwi yang berada tepat di atas pohon sebelah kami, saat perjalan pulang kami melihat burung yang kecil bewarna hijau dan ada warna merahnya terlihat kecil sekali saling terbang dan ada yang berada di tajuk atas sehingga kami kesusuhan mengamati ternyata merupakan burung Serindit Jawa dan satu burung lagi yang prilakunya berada di batang dan tidak di ranting, yaitu Takur Tulung Tumpuk . (Nurul Mauludah)


Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dan Kongres Anggota Pelatuk Bird Study Club 2017 (KAP BSC 2017)

Kamis, 23 Februari 2017 / No Comments
Laporan Pertanggung Jawaban yang sering disebut dengan istilah LPJ-an telah berhasil dilaksanakan oleh Pelatuk BSC. Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu-Minggu, 28-29 Januari 2017 bertepatan dengan hari perayaan Imlek Gong Xi Fa Cai. Meskipun demikian, tak menyurutan antusiasme selama acara berlangsung. Adapun yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain yaitu calon anggota Pelatuk BSC Angkatan XI, Anggota Angkatan X, Fungsionaris, dan juga para Alumni yang hadir dan ikut membersamai berlangsung acara hingga selesai.

Sebelum memulai acara, seluruh panitia mempersiapkan semua perlengkapan acara secara bersamaan. Kemudian setelah itu dimulai gladi LPJ. Serangkaian acara pembukaan-pun dilaksanakan, diawali oleh MC yang membuka acara, sambutan ketua panitia, pembacaan do’a serta penyerahan palu kepada presidium sidang. Kemudian sidang penyampaian LPJ-pun dimulai. Diawali dengan sambutan dan membacakan aturan sidang oleh presidium sidang. Kemudian LPJ yang pertama diawali oleh Ketua Pelatuk BSC 2016, Erik Prasetyo yang mewakili PH yang lain.

Kemudian dilanjutkan oleh Development Division yang disampaikan oleh Windi Tri Kusumawati. Terakhir adalah penyampaian LPJ dari Exploration Division oleh Fakar Farada Abidin. Setelah PH dan ketiga divisi selesai menyampaikan, dilanjutkan oleh pengkritisan oleh forum yang juga dihadiri oleh para alumni. Pengkritisan berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.

Selesai pengkritisan, kemudian dilanjutkan dengan Ishoma atau Istirahat Sholat Makan. Setelah Ishoma dilanjutkan dengan sidang KAP BSC 2017 untuk membahas AD/ART serta pembentukan tim formatur dan diakhiri dengan pemilihan ketua Pelatuk BSC Periode 2017. Serangkaian acara demi acara-pun telah terlaksana dengan baik. (Medini, 28 Januari 2017)